Aku terbangun cukup siang di pagi ini, pukul 7 aku baru sah-sah membuka mata. Lagi-lagi, seperti hari kemarin, hanya ada awan mendung yang mengambil alih tugas matahari untuk seharusnya bersinar di pagi ini. Ah,,, cuaca memang tak bisa ditebak sekarang.
Hm… seperti halnya diriku. Aku, pagi ini terbangun dengan sejuta pertanyaan sederhana tentang hari yang akan kulalui ini. Mau kemana aku hari ini? Apa yang akan kukerjakan hari ini? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang tak jarang membuatku bingung untuk menjawabnya. Ya… bisa dibilang hidupku lebih sering untuk tak terarah akhir-akhir ini. Ada yang menggantung… tapi terlalu tinggi hingga aku tak mampu menggapainya. Aku punya keinginan, tapi aku tak menemukan keajaiban untuk aku bisa menunaikan keinginanku itu. Hh… apakah segala sesuatu yang terjadi didunia ini perlu keajaiban? Kata Einstein, hanya ada dua cara yang bisa dilakukan dalam menempuh hidup ini. Pertama, menganggap bahwa seolah-olah tidak akan pernah ada keajaiban. Dan yang kedua, menganggap segala sesuatu itu adalah keajaiban. Jadi, pilih cara yang mana?
Semalam aku ber-sms ria dengan sahabatku. Kami membahas topic tentang “kesabaran”. Kami sama-sama setuju, kalau seberapa seringnya kamu bersabar, tapi terkadang masih saja kurang sabar menurut Tuhan. Oleh karena itu, lagi-lagi, segala sesuatu yang kita inginkan itu masih belum juga tercapai. Apakah seperti itu, Tuhan? Jadi seberapa besar porsi kesabaran yang Engkau inginkan? Ah…maafkan aku Tuhan. Aku tak bermaksud menggugah-Mu dengan pertanyaan-pertanyaan konyolku ini. Tapi bukankah manusia, makhluk ciptaanmu ini, termasuk kedalam salah seorang makhluk yang terlalu banyak tanya, terlalu banyak meminta, dan terlalu sering menuntut?
Aku punya cita-cita… yang semua orang bilang cita-citaku ini terlalu mulia dan sangat “langka” diantara cita-cita semua manusia yang seumuran denganku saat ini. Aku ingin menyepi, menyendiri, aku ingin dilempar ke ujung dunia, tak peduli seberapa jauhnya itu. Tapi aku ingin memulai segala sesuatunya dari nol. Aku muak dengan segala budaya konsumtivisme yang membuat manusia makin ketergantungan pada hidup. Aku tak mau. Aku hanya ingin pergi jauh dari sini. Semoga untuk cita-citaku yang satu ini, Tuhan akan mengabulkannya.
Aku terbangun pagi ini dengan sejuta satu pertanyaan memenuhi tempurung kepalaku. Dan aku memilih cara kedua yang ditawarkan Einstein, bahwa menganggap segala sesuatu itu adalah keajaiban. Hidup itu sendiri adalah keajaiban. Dan aku berharap keajaiban itu pula yang menuntunku untuk melakukan sesuatu yang ingin kulakukan saat ini.***
Senin, 31 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar